Bukan Sinetron| Part 1
Kacamata
Apa yang kalian
pikirkan soal cewek berkacamata? Cupu? Kutu buku? Klise sih, but kali ini kalian salah soal itu semua. Jangan kalian
pikir ini seperti kisah-kisah klise lainnya. Seperti kisah si kutu buku yang
bertransformasi menjadi gadis cantik,mungkin? Jika kalian berpikir seperti itu,
mungkin mulai sekarang kalian harus berhenti menonton yang namanya opera sabun,
atau yang biasa kalian sebut sinetron. Khususnya untuk kisah-kisah putiha bu-abu.
Kehidupan yang sebenarnya gak seindah drama-drama itu girls. Realita menamparku khususnya masalah tugas, tapi bagisebagian
orang itu benar adanya.
Perkenalkan, namaku Mikayla Vania
Saputri. Murid XI IPA 2 SMA N 1 Bathara. Panggil saja aku Kayla. Meskianggota
OSIS, bukan berarti aku siswi terkenal yang sukaber gauldengan orang kasta atas,
aku cenderung terjebak disini. Kalau bukan karena Bu Indah yang memilihku,
aku tidakakan menjadi anggota OSIS. Tidak banyak yang kukenal di sini, hanya Hazel, Ghea,
dan Bianca yang paling akrab denganku.
“Kay!” Aku tersentak darilamunanku saat
Hazel mengguncangkan bahuku.
“Eh? GimanaZel?” ujarku
“Tolongfotoin dong,” ucapnya sembari menyodorkan benda pipih berbentuk persegi panjang berwarna soft pink. Dapat kulihat di belakangnya dua orang siswi yang
masih menggunakan seragam SMP.
“Oke.” Yah
beginilah hidupku kadang kala menjadi fotografer dadakan saat ada orang yang ingin berfoto dengan teman populerku-Hazel.
Wajar saja sih, Hazel itu primadona sekolah dengan kepribadian supel.
“Oke … makasihKak,” ujar kedua gadis itu
dan berlalu pergi.
“Maaf yah … jadi ngrepotin lo lagi,”
ujarnya dengan senyum tipis sembari merangkul bahuku. Angin membelai lembut pipinya.
Menerbangkan helai rambutnya yang membuatny asenantiasa terlihat menawan.
Membuatku sedikit … iri mungkin?
“Santai aja kali Zel.”
Aku membalas senyumnya.
“Eh lo berdua, sini,”
ucap seorang cewek dengan gaya rambut kepang satu yang sedang duduk di bangku panjang
area koridor bersama tumpukan kertas putih. Lantas aku dan Hazel
berjalan mendekati kedua gadis itu.
“Bantuin kita gih,”
ucap cewek bermata coklat indah itu.
“Pesan dari Bu Dita nih pasti,” ujar Hazel.
“Eh Kay, coba deh lo lepas kacamata lo.”
Ghea berucap denganmenatap mataku.
“Iya Kay, gue penasaran banget deh,” timpal
Bianca. Aku lantas menanggalkan kacamata yang biasanya terbingkai di wajahku.
“Yaampun Key, beda gitu ya.” Bianca
memberikan reaksi hebohnya.
“Ini angka berapa Key?”
tukas Gheasembari mengacungkan kedua jarinya di depan wajahku dengan jarak sekitar tigapuluh sentimeter.
Hazel yang mendengar penuturan Ghea memutar
bola matanya dan mengalihkan pandangannya menatap Ghea, “please deh Ghe, dia cuma minus bukan buta keles.”
Bianca mencibir Ghea,
sementara si empunya hanya nyengir saja.
“Kebanyakan terdoktrin opera sabun sih
lo,” ucap Bianca yang mulai tergelak.
“Makanya kurang-kurangin deh konsumsi micin,”
timpal Hazel yang tengah selesai menata kertas di hadapannya.
“Kurang-kurangin juga ngayalnya,”
lanjutku.
Ghea menggembungkan pipinya tanda kesal,
“apaansih lo pada.”
“Udah yuk,” ucap Hazel
sembari memberikan setumpuk kertas yang sudahdi susunnya pada Bianca.
Komentar
Posting Komentar